Tanda Tanya Anna ( Part 2 )

Tanda Tanya Anna ( Part 2 )

Hallo, San, apa kabar?”

“Baik, gimana kabarmu, Na?”

“San.... Hidupku kacau sejak gagal nikah. Kamu masih kerja di Rumah Sakit Jiwa Mekar Jaya San??” tanya Anna menunjukkan wajah penasarannya.

“Maaf Na…. Iya Na. Aku kepala perawat sekarang di sini. Kamu masih konsul dengan Psikiater, Na, seperti ceritamu tiga tahun lalu?”

“San, aku capek bangetzz. Aku bahkan sering mendengar suara-suara aneh sudah sebulan ini. Aku sudah seminggu tidak tidur San… Parah banget kondisiku saat ini, bantu aku, San.”

Anna membuat cerita dan bertingkah aneh di video calldengan menangis dan bersuara gemetar untuk lebih meyakinkan Sussan temannya agar dirinya bisa segera dirawat di Rumah Sakit Jiwa Mekar Jaya padahal kondisinya tidak seburuk itu meski benar Anna masih konsultasi dan minum obat dari psikiater. Sussan melihatnya dengan sangat prihatin serta khawatir lalu mulai menatap serius pada Anna.

Anna, kamu harus segera ke IGD rumah sakitku sekarang, jangan ditunda lagi. Aku melihat kondisimu akan menyakiti diri sendiri jika tidak segera menerima pertolongan. Aku akan izin pada dokter dengan riwayat penyakitmu sebelumnya. Aku akan bantu kamu supaya bisa dirawat di sini ya dan dalam pantauanku”.

Iya, San… Aku mau”.

Sekarang ya Na, minta bantuan teman kerjamu untuk antar ke sini ya.” Anna menutup video call-nya sambil tersenyum lega.

Ternyata ada gunanya riwayat kesehatan ini dalam membantu rencana terselubungnya. Anna tertawa kecil lalu menghempaskan wajahnya ke atas buku agendanya. Anna mempersiapkan rencananya dibantu oleh rekan kerjanya Siwi yang sudah dalam perjalanan ke kantor.

Anna masih sempat setengah jam tertidur sampai Siwi membangunkannya lalu megantar Anna untuk ke IGD Rumah Sakit Jiwa Mekar Jaya sebelum para karyawan lainnya berdatangan, terutama sebelum bos gilanya Pak Hendra mendaratkan telunjuknya kembali pada Anna.

Cemano Na, lah yakin harus gini yo caronyo? Idak takut apo kau di sano tu?”

Yakinlah, tidak ada jalan lain. Daripada habis kita semua dibuat Monster Hendrawan kejam tak berprikemanusiaan itu, biarlah aku yang berkorban masuk RSJ”

Kalau cam itu okelah. Kau adalah kepala tim kito. Aku ngikut bae, payoolah kito berjuang bersamo sampai akhir, apa pun risikonyo aku akan di pihakmu, Na.” Anna dan Siwi masuk mobil dan melaju kencang menuju RSJ Mekar Jaya.”

Anna menampilkan make up wajah pucat, rambut berantakan, dan begitu sampai di IGD Anna memukul-mukul pundak Sussan serta menggerakkan kakinya secara agresif saat Sussan baru saja datang menghampirinya.

Tenang ya, Na. Sebentar lagi kita menuju ruangan, semua sudah kuurus yang terbaik untukmu, biarlah kamu seminggu istirahat dulu di sini dalam pengawasanku.”

Sussan, tolong aku,” ucap Anna lembut sambil memeluk Sussan sementara Siwi senyum simpul melihat Anna bermain peran dengan sangat natural.

“Iya Na. Bentar ya, habis ini akan aku antar kamu ke ruangan.”

Sussan melanjutkan menyelesaikan berkas-berkasnya di meja pendaftaran sementara Anna ditopang berdiri kembali oleh Siwi yang siap sedia mendukung peran Anna yang membohongi Siwi tentang kondisi sebenarnya. Anna berjalan menuju kamar rumah sakit dengan kondisi wajah lebih pucat, bibir pecah-pecah serta mata yang semakin menghitam, namun Anna tetap aktif mengelabui semua orang untuk memeriksa pandang ke sekeliling ruangan-ruangan yang tak asing lagi baginya. Tiga tahun lalu Anna benar-benar dirawat selama dua minggu di sini, setelah mantannya menikah mengakhiri masa pacaran mereka yang sudah berjalan sembilan tahun.

“Jadi malam ini juga aku harus tahu ruangan tempat Kevin dirawat… Besok pagi antar makanan dan pakaian bersihku ya Wi.” Anna mengirim pesan WA sebelum diminta oleh Sussan karena setiap pasien tidak boleh menggunakan alat komunikasi apa pun selama dalam perawatan di lokasi RSJ. Siwi mengangguk tanda setuju saat membaca pesan singkat dari Anna sambil lalu semakin jauh melepas pandang pada Anna yang pergi dibawa perawat Sussan menuju ruangan SRIKANDI.

Ini kamar kamu ya, Na. Aku siapkan yang paling nyaman buat kamu istirahat.” Anna hanya mengangguk dan pasrah saja.”

“Minum obat ini, Na, agar bisa tidur.” Anna patuh saja agar semua rencananya berjalan lancar, meminum obatnya dan tak lama kemudian mulai merasakan kantuk berat.

“Selamat istirahat Na, besok kita akan bertemu dengan doktermu ya.” Ucap Sussan yang tak lagi dihiraukan oleh Anna. Sussan meninggalkan Anna di ruangan kamar tidurnya.

Tengah malam, Anna tersentak bangun, dia berjalan dari kamarnya keluar menuju ke tengah ruangan tamu yang ada bangku panjang dan sebuah televisi, Anna melihat data pasien di meja jaga dan saat itu semua perawat sedang tertidur lelap, akhirnya Anna menemukan nama Kevin Putra Sanjaya yang tertulis berada dalam Ruangan BERCERITA.

Anna kembali ke kamarnya dan mencoba tidur kembali, saat bangun kembali wajah Siwi sudah tepat berada di depan matanya.

Anna… Na.” Siwi menatap dekat pada wajah Anna sambil memeriksa kondisi Anna apakah benar-benar tidur atau masih berpura-pura tidur. Anna membuka matanya dan sedikit terkejut begitu melihat wajah Siwi.

Akulah bawa ni makanan kesukaanmu. Cemano keadaanmu Na??

Anna menutup kembali matanya dan memeluk bantal tidurnya, mengacuhkan Siwi yang penasaran.

Masih ngantuk Wi… Akan kuceritakan setelah aku sarapan ya, aku lapar sekali saat ini.”

Anna dan Siwi berjalan-jalan santai di taman atas seizin Sussan sebagai kepala perawat penjaganya.

Untung juga aku ada di sini kan Wi. Jadi aku tidak perlu mendengar ocehan bosmu yang gila itu sementara waktu ini. Aku yakin kok Wi kita bisa mendapatkan berita itu. Lumayan juga bisa sambil healing di sini kan, gratis pakai dapat undian berhadiah pula.” Anna tertawa lebar diikuti Siwi yang tertawa terbahak-bahak.”

Healing apo di siko Na, basing bae. Briefing pagi ko Pak Hendrawan marah-marah tanya kelanjutan berita kito dan bertanyo di mana posisimu berada, aku bilang baelah sedang dinas luar. Dio kasih deadline tujuh hari untuk Anna menyelesaikan tugas di luar kantor katanya sambil seperti biaso menyembur air liurnya dan menunjuk-nunjuk kami semua.”

Aku sudah menemukan ruangan Kevin dirawat, aku akan mulai mendekatinya. Tolong duplikatkan kunci kamar ini ya Wi, aku berhasil mengambilnya diam-diam saat Sussan lengah. Besok pagi ke sini lagi bilang alasanmu pada Sussan mengantar makanan kesukaanku.”

“Sesuai deadline dari Pak Hendrawan in Seven Days, right?”

Aku ngikut baelah Na. Siap kepala tim rahasia.” Anna tersenyum bahagia menyampaikan rencana besarnya pada Siwi yang kemudian izin untuk pamit kembali ke kantor.

Anna mengikuti senam pagi bersama pasien ODGJ lainnya sambil mengamati keberadaan Kevin berada, Anna melihat ke segala arah menggunakan mata elangnya seperti sedang mencari ayam jago, pandangannya bertemu pada sosok pria tampan yang sedang senam tanpa gerakan sesuai arahan perawat Sussan yang sedang melatih senam mereka semua di depan.

Satu… Dua…Tiga, ayo semua semangat sehat.” Teriak Sussan berkali-kali.

"Kevin sembarangan melakukan gerakan senamnya, beberapa kali tangannya menabrak tangan pasien lain dan membuat pasien lain marah.”

Akhirnya aku menemukanmu,” kata Anna dalam hatinya dengan perasaan sangat puas bahwa semua pengorbanannya akan berakhir bahagia".

Anna melompat kegirangan dengan kedua tangan dikepal sambil digoyangkan dan dilihat pasien ODGJ lainnya yang tertawa. Seorang pasien ODGJ memberi tanda tangan telunjuk kanan di jidat pada Anna.

Anna mencari cara untuk bertemu secara pribadi dengan Kevin, Anna menawarkan diri untuk berkeliling ruangan rumah sakit jiwa bersama perawat Sussan yang sedang jaga dengan alasan untuk mencari udara segar dan menenangkan diri.

Aku bisa membantu menemanimu, San berkeliling, sambil aku mencari udara segar, aku mulai bosan di kamar tidur terus. Padahal aku tidak juga bisa tidur terlalu lama lagi, obatnya sudah mulai membuatku tenang dan tujuh jam sehari tidur kurasa cukup kan?”

Anna merayu Sussan dengan wajah memelas, tangannya meraih tangan Sussan kemudian menggenggam tangan Sussan untuk memohon sampai Sussan mengangguk tanda setuju.

​Mereka menuju kamar Kevin dan itu adalah momen yang paling ditunggu oleh Anna, sambil tetap berdiri di belakang Sussan, Anna mengamati Kevin dengan seksama untuk mendapatkan berita tervalid apa benar pengusaha kaya raya bisa masuk rumah sakit jiwa, bukankah kebanyakan masuk penjara, ada pengalihan issue apa di balik semua ini. Anna sangat penasaran dengan wajah Kevin yang dilihatnya sejak di lapangan senam menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi yang bisa dipahami dengan mudah.

Hai Pak Kevin, apa kabar hari ini.” Sussan menyapa Kevin sambil memeriksa kondisi kesehatannya dengan alat tensi meter."

Anna kali ini menemui Kevin berjalan di samping tubuh Sussan menuju posisi Kevin berada yang sedang terbaring dengan mata terbuka melihat tanpa arah tujuan seperti kosong, saat Sussan  memeriksa pasien lain Anna mendekati Kevin semakin dekat.

Kevin kemudian bangun lalu duduk di tempat tidur sambil menulis di sebuah buku agenda yang juga dimiliki oleh Anna sebagai pasien di sana untuk menuangkan perasaan dalam bentuk tulisan, saat Kevin tahu Anna mengamatinya diam-diam menyelidik. Kevin kembali menunjukkan ekspresi dinginnya.

Hai namaku Anna, kamu bisa panggil aku Na saja”

Kevin tidak peduli akan perhatian Anna yang terus mencoba mendekatinya, Kevin lebih memilih bercanda gurau dengan pasien ODGJ seperti tampak asyik saling berbicara dan menunjukkan kedekatan. Kevin lebih banyak menunjukkan wajah tanpa ekspresi pada Anna namun sangat ramah dan penuh canda tawa pada pasien lain. Anna mulai merasa Kevin sepertinya sedang mengelabui banyak orang dengan permainan peran mereka masing-masing.

“Kevin, kenapa kamu bisa ada di sini??” tanya Anna tajam langsung tepat sasaran tanpa pura-pura lagi namun Kevin tetap tidak memedulikan Anna seperti tidak mendengarkan apa yang Anna sampaikan dengan lugas.

“Kurasa di sini cukup baik ya untuk menenangkan diri dari stres bekerja atau mengalihkan kerugian bisnismu, daripada di penjara, bukankah di sini lebih layak?” sambar Anna tanpa jeda menghantam Kevin yang akhirnya menatap Anna balik dengan lebih tajam.

“Terus saja bertanya dan menjawab sendiri karena aku tidak sekali pun akan menjawabmu jurnalis yang sedang mati penasaran tentangku.” Kevin tertawa terbahak-bahak, meliukkan tubuhnya sambil kembali berbaring.

Anna geram sekali kemudian berebut tempat duduk dengan pasien ODGJ yang suka tertawa dan senang mendekati Kevin juga saat jam makan bersama mereka di pagi hari berikutnya.

“Hei Mbak, bolehkah saya duduk di sini? Mbak bisa pindah saja ke sana.” Anna menunjuk pada kursi lain yang juga sedang berkumpul pasien lain duduk di bangku panjang.

“Saya ini istrinya Kevin, Mbak. Mbak tidak mau kan disebut PE-LA-KOR. Kami mau makan pagi berdua saja, jadi tolong pengertiannya.” Muka mengancam Anna membuat pasien itu beranjak pergi sesuai arahannya. Anna kembali mengajak Kevin berbicara dengan duduk di depan Kevin serta fokus menatap pada wajah Kevin dengan meletakkan kedua tangannya di wajah Kevin.

“Waktu kita sama-sama tidak lama lagi di sini. Aku tahu kamu tidak gila. Kamu pasti paham maksud pertanyaanku dengan baik kan, jadi tolong kerja samanya.” Anna mulai kesal karena Kevin tidak juga menanggapi pertanyaannya.

“Jadi apa yang membuat usahamu bangkrut dan berada di sini? Jangan sampai aku benar-benar membuat berita bahwa kau penipu yang mengalihkan berita di masyarakat tentang bisnis kalian yang merugikan rakyat”

Kevin berdiri dengan wajah marah lalu meninggalkan Anna, pergi untuk duduk bersama pasien ODGJ yang sedang berkumpul sambil tertawa masing-masing meski pembahasan berbeda-beda dan tak nyambung, Kevin berbagi makanannya pada pasien ODGJ wanita yang disuruh Anna pindah tadi, mereka kemudian tertawa bahagia menikmati makan bersama.

“Waduh, aku kalah menarik ya???” Anna tak habis pikir dengan sikap Kevin yang sangat aneh dan pandai sekali mengalihkan pembicaraan. Anna melihat tak percaya Kevin berinteraksi dengan baik pada pasien-pasien ODGJ yang lainnya. Berbicara dengan akrab seperti saling mengerti bahasa mereka sendiri padahal itu tidak mungkin terjadi kecuali Kevin benar-benar juga pasien ODGJ yang sama dengan yang lainnya.

“Di sana ikut terbang, anakku sedang bermain di lapangan,” kata salah satu dari mereka.

“Anak aku hilang mana, ibunya membunuhnya,” kata pasien yang lainnya menyambung.

Begitu terus saling bersautan dan Anna makin marah melihat kondisi yang tak sesuai prediksinya itu. Anna mulai muak dengan semua ini, waktunya juga semakin terbatas, Anna akhirnya mencoba untuk kabur diam-diam dari ruangannya pada malam hari karena sudah memiliki kunci duplikat dari Siwi.

Anna menulis kembali banyak tanda tanya di buku agendanya sambil berjalan ke kamar Kevin. Sementara Kevin hanya menggambar seperti pohon kelapa saja di buku agendanya.

“Bagaimana jika kita bercerita di tempat lain. Aku tahu menulis itu menenangkan. Tapi buku tidak bisa menjawabmu dengan pasti? Waktu berkeliling rumah sakit kemarin. Aku menemukan tempat yang sangat menenangkan di rumah sakit ini. Mumpung masih di sini mari kita nikmati waktu bersama dan berbagi cerita dengan jujur berdua saja supaya lebih asli”

Anna memaksa mengajak Kevin kabur dari ruangan tempat tidurnya, menarik tangan Kevin dengan kuat, mereka berdua berlarian di lorong rumah sakit sambil menghindari perawat yang sedang berjaga-jaga. Kevin mencoba menolak, namun terpaksa menyerah mengikuti tarikan tangan Anna padanya, mereka berlarian dengan muka takut, namun tetap terkesan hampa, tatapan asing dan tanpa senyum.

Anna membawa Kevin menuju balkon rumah sakit, kali ini Kevin tidak menunjukkan penolakan sama sekali malah cenderung pasrah saat Anna memegang tangannya dengan lembut mereka berjalan santai di lorong-lorong rumah sakit yang kali ini sudah benar-benar sepi, semua sudah tidur. Kevin mulai bersikap bersahabat pada Anna, dia memandang langit, suara rintik hujan jatuh saling berkejaran, dedaunan basah dengan suka, suasana lampu taman yang redup terang, terkesan horror, namun jadi pemandangan yang membuat mereka tertawa bersama tanpa berbicara apa pun hanya menertawakan bagaimana alam bercanda gurau pada dua mahluk Tuhan yang sedang saling bertanya dalam hati masing-masing.

Kevin dan Anna sampai di atas balkon, mereka tertawa lepas berdua dan secara serentak menarik nafas yang sama sambil menjatuhkan diri duduk di lantai balkon dengan, saling menatap untuk menunjukkan bahwa permusuhan sudah berubah menjadi persahabatan dan selanjutnya….

Apa yang kamu cari di sini, wanita pemberani yang gila.” Tanya Kevin menatap sendu pada Anna yang masih tersenyum.

Sesama orang gila jangan saling menghina, hahaha. Aku … Pernah di sini sebelumnya.”

Kevin menatap tak percaya saat Kevin mau berbicara dengan lebih akrab padanya

“Apa yang membuatmu ada di sini?”

“Aku akan menjawabnya besok di sini. Di jam yang sama. Ayoo kita bertemu. Sekarang kita harus kembali, kamu harus jaga kesehatanmu.”

Anna masih tersenyum berharap esok segera datang dan bisa mendengarkan cerita Kevin selengkapnya. Anna dibuat tertawa oleh tingkah pasien ODGJ Schziprenia yang senam dengan gerakan yang seperti mematung hanya kepala yang bergerak kanan dan kiri, menertawakan yang lain tanpa ada yang lucu.

Anna memberinya makanan dan duduk di sampingnya, menyapu dengan cepat sambil berbicara sendiri serta keberanian pasien tersebut untuk tampil mengajarkan gerakan senam baru kepada pasien lainnya. Anna tertawa lepas melihat tingkah pasien-pasien ODGJ yang lain seperti tanpa masalah dan beban pikiran padahal karena beban pikiranlah mereka semua menjadi pasien di sini.

Kevin mendekati Anna duluan dan makan bersama Anna saat itu Anna tidak lagi banyak bicara hanya mengangguk tanda setuju untuk setiap pertanyaan dari Kevin karena melihat Kevin membuatnya senang memikirkan jawaban apa yang akan diberikan Kevin nanti malam padanya.

“Makan, Na? Sudah lebih baik hari ini? Nanti malam, ya? Jangan lupa?”

“Hai Kevin, malam ini tidak terlihat bintang ya hanya bulan…”

Malam cerah, lampu taman sudah menyala dan terdengar suara-suara kecil binatang

Ucapan pertama kali Anna saat bertemu Kevin, namun Kevin tidak berkata apa-apa hanya langsung memberikan buku agendanya.

Kenapa memberikannya padaku? Ini kan penting buatmu??”

Anna kembali terus menyampaikan pertanyaan dan penjelasan.

“Maafkan aku Kevin, aku adalah seorang jurnalis. Aku di sini mencari berita tentangmu.”

“Ini malam terakhirku di sini, Na. Besok pagi aku sudah boleh pulang”

Anna dan Kevin terdiam berdua sambil menikmati pemandangan malam RSJ lalu sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing, melihat bulan, lampu taman yang redup dan tiba-tiba mati kembali serta pohon-pohon yang bergerak karena tiupan angin kencang di kursi santai yang ada di balkon.

“Mau hujan, Na. Ayo kembali ke kamar.”

Anna berpisah dengan Kevin di lorong RSJ menuju kamarnya dengan memegang erat agenda yang diberikan oleh Kevin, Anna kembali melewati setiap lorong rumah sakit jiwa bersama Kevin dengan rasa yang campur aduk sebelum akhirnya mereka berpisah ke ruangan masing-masing.

ANNA makan bersama pasien ODGJ yang lain, Anna menikmati sisa hari terakhirnya di sana dengan bergaul akrab dengan pasien-pasien lainnya, bercerita dan bercanda gurau bersama, membantu mereka mencabut rumput, menyapu halaman, senam bersama sampai Anna juga mau disuruh memimpin senam oleh Pasien ODGJ.

Anna membaca halaman demi halaman buku agenda yang diberikan Kevin sambil duduk sendiri di balkon RSJ sendiri, malam terakhir sebelum besok Pagi keluar juga dari RSJ.

Muncul Headline Viral yang menyita banyak perhatian publik yang ditulis oleh Anna

“PENGUSAHA SUKSES YANG MASUK RUMAH SAKIT JIWA ITU JUGA MANUSIA”

Semua menyalam dan memberi selamat pada tulisan Anna yang membuat kantor berita mereka menjadi sangat populer dengan berita viral yang tidak dapat ditemukan di berita lain, lengkap dengan wajah Kevin yang terpampang memenuhi jendela berita, sosok yang terdeskripsi ganteng, berwibawa, dan menawan.

Berita yang diliput oleh selama dua minggu berturut-turut, banyak jurnalis luar negeri yang ingin mewawancarai Anna untuk mengetahui bagaimana dia bisa mendapatkan berita itu. Kita berhasil diapresiasi oleh Ikatan Jurnalis Indonesia. Dewan redaksi bangga pada kita. Kami memutuskan untuk mengangkat Anna menjadi pemimpin redaksi,” ucap Pak Hendrawan tanpa menunjuk-nunjuk dan menyembur air liurnya.

Pak Hendrawan menyalam Anna dengan raut wajah bangga sedikit tertawa sambil mengatakan juga secara tegas dan nyaris teriak kepada seluruh karyawan lainnya

“Inilah Anna hasil didikan saya…”

Pak Hendrawan tertawa puas dan terbahak-bahak sambil mempersilahkan Anna untuk berbicara di depan para juniornya.

“Terima kasih. Semoga kita tetap bisa menjaga kebenaran berita dan menyebarkannya dengan perspektif yang berimbang sehingga tidak hanya viral, tapi juga mengedukasi dan buat Pak Hendrawan ini semua kerja tim bukan dan ini bukti tim saya solid, kami semua berhasil.”

Siwi memberikan buket bunga tanda selamat pada Anna, memeluknya kegirangan. Kevin berdiri di samping mobilnya dengan wajah tersenyum manis menatap pada Anna yang baru saja keluar dari pintu kantornya dan melangkah ke arahnya. Anna tersenyum manis dan sedikit malu-malu berjalan ke arah Kevin yang datang menjemputnya. (bersambung)