Tanda Tanya Anna ( Part 1 )

Tanda Tanya Anna ( Part 1 )

Jiwa itu bukan hanya satu lapisan saja tapi berlapis-lapis. Anna harus mempertahankan posisinya sebagai jurnalis senior, tugas kali ini berbeda. Anna akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan berita itu, namun pertemuannya dengan Kevin di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) mengubah pilihannya kemudian.

Media Mekar Jaya sedang sibuk mengolah berita turunnya harga kelapa sawit di Jambi, salah satu berita paling dicari berbagai media adalah tentang pengusaha muda pemilik perkebunan kelapa sawit bernama Kevin yang masuk rumah sakit jiwa.

Anna jurnalis senior merupakan wanita lajang kesepian yang baru saja batal menikah dan melampiaskan emosinya dengan bekerja keras di kantor. Anna menyamar sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa untuk mendapatkan berita tentang Kevin sebagai tugas penting dari kantornya, dengan bantuan Siwi rekan kerjanya serta Sussan yang merupakan kepala perawat di RSJ.  Tugas ini harus diselesaikannya dalam waktu 7 hari. Awalnya Anna melakukannya demi mendapatkan berita, namun berakhir demi apa?

Suara musik dengan beberapa visual suasana malam di Kota Jambi lalu berubah menjadi pemandangan pagi dengan hamparan perkebunan kelapa sawit yang berembun, cepat berganti dan menunjukkan gambar kantor berita ternama di Kota Jambi dengan kesibukannya.

Pagi ini kantor berita sedang ramai dan riuh memaparkan tentang turunnya harga kelapa sawit, munculnya berbagai headline dengan judul pemberitaan baik secara cetak, online maupun TV digital. Mulai dari judul berita:

TURUNNYA HARGA KELAPA SAWIT ADALAH VIRUS MEMATIKAN BAGI WARGA JAMBI

SUDAH SULIT MAKIN SULIT, WARGA JAMBI MENANGIS HISTERIS

TURUNNYA HARGA TBS SEBANDING DENGAN NAIKNYA DARAH TINGGI

APAKAH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI JAMBI HARUS DITUTUP SAJA?

PETANI KELAPA SAWIT MENGGANTI USAHANYA DENGAN MENANAM TEH DAN KOPI

INDUSTRI SAWIT DI JAMBI TERPURUK

KISAH KELABU SELIMUTI NASIB PETANI SAWIT DI JAMBI

PENGUSAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MASUK RUMAH SAKIT JIWA

Pagi ini, Pak Hendrawan masuk ruang rapat dengan membabi buta meremuk berita di tangannya, kemudian melemparnya ke tong sampah di depan semua bawahannya, Suasana menjadi tegang, kaku, dan saling berbisik, Pak Hendrawan marah besar kepada semua jurnalis di kantor media MEKAR JAYA.

Kalian semua mau dipecat… iya? Macam kura-kura kulihat… lambat! Bodoh kalian semua! Lama-lama aku yang kalian buat sakit jiwa!”

Pak Hendra berjalan ke arah karyawan satu per satu sambil menunjuk-nunjuk satu per satu bawahannya yang tertunduk takut.

Andi, kau sudah bosan bekerja di sini?” Menunjuk ke muka Andi lalu mengepal tangan, Pak Hendrawan sesungguhnya memberikan pertanyaan yang tidak mengharapkan alasan.

“Izin meliputnya tidak diberikan oleh pihak RSJ Pak...,” sahut Andi cepat. 

“Siwi kau kan wong Jambi tak ada link-mu ke situ.” Tanya Pak Hendra pada Siwi sambil menunjuk Siwi untuk kedua kalinya.

“Maaf Pak sayo takut meliput orang gil…oo.” Siwi mulai emosi menjawabnya.

Belum selesai Siwi bicara, Pak Hendra sudah menatap tajam pada semua karyawan satu per satu dan berakhir menatap lama pada Anna yang hanya diam saja ditunjuk-tunjuk, namun pandangannya pada Pak Hendra seperti psikopat yang hendak melemparkan tinju diam-diam namun kuat.

Anna kau yang harus bertanggung jawab, jangan seperti robot kau di situ berdiri, jika gagal maka posisi kalian semua taruhannya dan itu tanggung jawabmu sebagai kepala redaksi Anna, PAHAM KAU!!!”

Ucapan (paham kau) dengan intonasi suara kuat dengan logat Batak yang kental ditambah tatapan tajam, sambil berteriak menyemburkan air liur ke muka Anna yang basah bermandi ludah.

Siap, sangat paham, Pak,” jawab Anna dengan menatap tajam pada bos gilanya itu, namun kondisi wajah tertekan serta terintimidasi tidak dapat Anna sembunyikan.

Siwi bergegas menghampiri Anna dengan cepat, berusaha menenangkan Anna sambil mengelap muka Anna yang basah oleh air liur dengan tisu.

Aku percaya, Na, kali ini pun kau akan berhasil. Bisa yok! Bisa!”

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Anna seorang diri duduk di ruang kerjanya yang berantakan dengan berbagai buku, koran majalah dan laporan berita. Anna berpikir keras, menggigit pena, menulis tanda tanya di buku agendanya terus menerus sampai menembus halaman berikutnya.

BOS GILA+MANTAN BRENGSEK tulisan besar huruf kapital di buku agendanya. Anna memukul meja dengan tangan kanan yang dikepal sambil duduk setengah berdiri menyandar pada meja kerjanya. Anna tertidur di ruang kerjanya dengan posisi wajah sangat berantakan, rambutnya kusut, matanya sayu, bibirnya kering pucat, wajah kusam dengan pakaian kusut, kemeja putih serta jeans biru dongker.

Anna berdiri kemudian berjalan, duduk, kemudian berdiri dan berjalan bolak-balik berkali-kali, sampai matanya mulai meminta tidur kembali, Anna memutuskan hendak membuat kopi, dengan sedikit sempoyongan berteman pandangan kosong. Anna melewati ruang kerja bersama yang masih sepi, begitu banyak tanda tanya di pikirannya tentang masalah yang dibawanya dengan sedikit tidur sudah berhari-hari, mengaduk kopinya sambil terus memikirkan cara mendapatkan berita itu.

Anna membuka pesan Whatsapp di HP-nya dari Pak Hendrawan.

Jangan sampai gagal seperti rencana pernikahanmu Anna.” Dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.

Anna mengacuhkannya segera karena telah membuat moodnya makin berantakan ketika melihat-lihat status temannya di WA. Anna menemukan status dari Sussan teman satu kampusnya.

FIGHTING” dengan background foto tempat kerjanya sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah ikut difoto.

Anna mengambil handphone dan menghubungi Susan lewat video call, Anna ingat bahwa Sussan adalah seorang teman perawat yang bekerja di RSJ di mana juga merupakan tempat pengusaha muda kelapa sawit itu sedang dirawat. Anna duduk dengan gelisah, pandangan kosong, jari-jarinya bermain seperti menekan tuts piano sambil sering menarik napas pendek. Anna tampak cemas menunggu Video call-nya diangkat, menggigit-gigit tutup penanya, menulis tanda tanya di buku agendanya kembali, pandangannya dalam ke arah HP yang diletakkan berdiri di atas meja menunggu jawaban. Akhirnya diangkat. (bersambung)