Awalnya merupakan pelarian, namun berakhir dengan keputusan terbaik yang pernah diambil. Pertengkaran Mandalika dengan orang tuanya tentang pilihan masa depan membawanya untuk melarikan diri ke daerah pedalaman Sulawesi Selatan, suku Kajang, Kabupaten Bulukumba dan memilih untuk mengajar anak-anak di pedalaman yang biasa ia lakukannya sejak kuliah.
Bagi orang tua Mandalika yang terbaik setelah lulus kuliah adalah menjadi PNS lalu menikah, namun Mandalika ingin mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak di pedalaman. Mandalika kabur tepat pada saat acara pertunangannya menuju suatu daerah terpencil, terluar, dan tertinggal. Tidak ada penerangan pada malam hari dan sangat susah sinyal namun tak disangka Mandalika bertemu seorang di sana.
Seorang wanita cantik berambut panjang terurai bersiap menaiki sepeda motornya. Perjalanan berliku mengimbangi suara-suara dalam kepalanya sendiri.
(Bebas lepas bahagia, perjalanan berkali-kali yang terus terulang kembali, memoar jejak-jejak langkah yang rinduku datangi kembali, aku suka hutan, aku suka saat-saat bersama anak-anak, aku suka sekali kembali di tempat di mana aku merasa benar-benar hidup sebagai manusia yang utuh, namaku Mandalika mari bertualang dengan kisahku…)
Begitu sampai Mandalika menatap rumah penjaga hutan desa pedalaman lalu tersenyum cantik membuka helm disertai senyum lebarnya yang mempesona.
“Akhirnya aku kembali ke sini. Kali ini akan bagaimana ya? Aku rindu.” Mandalika turun dan mengetuk sebuah rumah.
“Mamak, aku kembali Mak! Aku rindu sekali sama Mamak juga anak-anak di sini.”
Mandalika menggenggam tangan Mamak.
“Boleh, ya, Mak aku tinggal di sini.”
“Sudah duduklah dulu di sini, kita melepas rindu, Nak,” kata Mamak sambil memeluk.
Mandalika merasa pelukan itu begitu hangat lebih dari pelukan ibu kandungnya.
“Apa kabarmu, Nak?” Mempersilakan Mandalika duduk di tikar anyaman.
“Aku dipaksa untuk menikah Mak. Aku kabur dari rumah. Aku punya pilihan hidup sendiri, Mak.”
“Hidup memang serangkaian pilihan. Kamu harus bertanggung jawab untuk pilihanmu ini ya. Jika sudah diambil jangan menyesal.”
“Siap, Mak.” Mandalika mengangguk yakin.
“Mohon bantuannya. Bisakah Mamak mengantarkan saya ke Bapak untuk meminta izin.”
“Iya besok pagi ya. Bapak tengah bermalam di tengah hutan, di atas pohon. Ada masalah, Nak. Nanti kamu juga paham.”
Mandalika menatap tajam dengan was-was akan maksud Mamak berkata demikian, lama Mandalika menerawang jauh berpikir apa yang mungkin saja bisa terjadi, mengambil posisi duduk dengan membereskan tas ransel bawaannya. Mandalika menemui kepala adat setempat diantar oleh Mamak, mengetuk pintu disambut kepala suku bersama beberapa warga, Mandalika duduk dengan grogi.
“Kami bersyukurlah. Anak mau datang kembali ke sini dan membantu kami. Semoga anak betah berada di sini. Anggaplah kami ini keluarga anak ya. Kakak Mandalika bisa mengajar anak-anak di sini kan?” tanya kepala suku.
“Bantu ibu-ibu juga. Apa pun kebutuhan Mandalika selama di sini akan kami bantu,” sambung Mamak dilanjutkan senyum tanda setuju dari warga lainnya.
“Nak, ketika Bapak bermalam di tengah hutan, Bapak bertemu dengan orang kota. Mereka ingin meratakan hutan ini dan membangun perumahan warga katanya agar kami bisa hidup lebih nyaman di sana, namun bapak tidak setuju kalau harus pindah dengan cara menebang hutan, lebih baik kami tetap tinggal di atas pohon, itu pertukaran yang tidak adil bagi kami serta alam yang telah ratusan tahun memberi kami kehidupan.”
“Apakah mereka punya izin, Pak? Kenapa mereka berani melakukan hal itu?” tanya Mandalika penuh selidik.
“Itulah yang bapak tidak paham. Bapak tidak ada pendidikan Nak. Mereka terus memaksa.”
Kepala adat tampak sedih begitu pula warga lainnya. Mamak melanjutkan berbicara dengan kepala suku sedangkan Mandalika meninggalkan tempat untuk jalan-jalan disekitar hutan yang sudah lama dirindukannya. Di sungai yang berarus lambat ada enam anak sedang bermain air sambil melempar-lempar batu ke air untuk melihat yang lemparannya paling jauh, ketika anak-anak melihat Mandalika mereka serentak berlari memeluk Mandalika.
“Kak Mandalika kembali adik-adikku.” Peluk Mandalika.
“Kakak kami sangat rindu,” jawab adik-adik.
“Kakak akan tinggal bersama kami kan?” Tanya seorang anak laki-laki berambut keriting, sambil meleyot di samping Mandalika.
“Kakak ayo kita bermain,” sambung anak lainnya
“Kakak kami sudah mandi pakai sampo,” cerita seorang anak sambil menunjukkan rambutnya yang basah dan wangi, membuat semua tertawa sambil memegang rambutnya sendiri.
“Pasta gigi tidak kami makan lagi kakak,” ungkap anak lain dengan polosnya.
Tertawa semakin pecah di antara mereka dan mandalika menangis terharu.
“Iya ayoo, kita bermain.” Ajak Mandalika sambil berlari menuju sungai.
Mereka lalu bermain mencari teman di mana jika disebut dua, harus memeluk teman dua orang dan menyebutkan huruf nama teman yang dipeluk, namun ternyata anak-anak tidak ada yang mengerti cara bermainnya lalu Mandalika mengajari pelan-pelan sambil bermain dan bernyanyi bersama.
Mandalika sedang menulis di buku harian, sesekali memandang langit yang terang, memandang sekeliling dan menulis kembali, Mandalika tersenyum sendiri, tiba-tiba bisa terharu dan menangis, kemudian menutup buku hariannya yang mulai basah dengan air matanya.
“Hai, anak ingusan apa maksudmu datang ke sini. Mereka tidak perlu dibantu. Mereka akan kami ungsikan ke kota. Itu jauh lebih baik untuk masa depan mereka. Hutan ini akan kami buat perumahan sekaligus juga kami berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan negara.” Ancam mereka kaum berdasi dengan nada suara menekan.
“Tahu apa kalian tentang mengganti fungsi hutan. Coba tunjukkan di mana surat izinnya. Mereka lebih suka tinggal di hutan. Mereka bisa kita ajari bercocok tanam untuk hidup lebih baik berdampingan dengan alam. Memindahkan mereka ke kota bukan solusinya.”
“Tutup mulutmu. Jangan sok pintar!”
“Saya punya izin tinggal di sini bahkan dari pemerintah. Jika Bapak-bapak memaksa untuk merusak hutan di sini, saya tidak akan segan-segan melaporkan Bapak-Bapak ke polisi hutan,” suara Mandalika mulai meninggi.
“Kurang ajar. Ayo kita pergi!”
Mereka lalu pergi dengan ketakutan ketika Mandalika menelpon seseorang, lalu Mamak yang memperhatikan dari rumah segera menghampiri Mandalika.
“Tolong dibantu ya. Ini rumahku juga. Jangan sampai mereka datang kembali,” kata Mandalika menutup HP-nya.
“Istirahatlah, Nak,” kata mamak melihat wajah lelah Mandalika sambil mengelus
Rambut panjangnya.
“Baik, Mak.” Mereka pun masuk ke rumah.
Mandalika membawa white board kecil dengan spidol lalu menggambar binatang kupu-kupu, anak-anak sudah berkumpul siap untuk belajar dengan sangat antusias.
“Gambar apa ini Adik-Adik?” tanya Mandalika penuh semangat.
“Kupu-kupu, Kak,” jawab anak-anak serempak.
“Berapa jumlah kupu-kupunya?”
“Sepuluh, Kak.”
“Belum benar.”
“Tiga, Kak.”
“Belum benar, mari kita hitung bersama. Ikuti Kakak yaa. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.” Sambil mengajak anak-anak bernyanyi menyebutkan angka-angkanya.
“Jadi kupu-kupunya ada delapan ya.”
“Enak lagu kakak ayo ulangi, Kak.” Anak-anak sambil berjoget melantunkan kata-kata yang jadi mudah mereka ingat.
“Sekarang mari menulis kupu-kupu. Pakailah jari. Tulislah di pasir ini saja ya.”
Anak-anak menulis dengan melihat di papan tulis, mereka memperhatikan dengan teliti sehingga semua benar saat menuliskannya, Mandalika tersenyum puas.
“Ayo kita nyanyi ABC bersama sebelum menutup pembelajaran hari ini.”
Mereka pun bernyanyi serempak. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cepat, semakin cepat. Anak-anak dan Mandalika serempak menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat dokter beserta warga membawa pasien ditandu. Bertemulah mata antara dokter dan Mandalika untuk pertama kalinya.
“Dokter kenapa warga itu?” Tanya Mandalika penasaran.
“Terserang demam berdarah. Aku hendak membawanya ke rumah sakit terdekat.” Dokter muda itu jeda sesaat menatap Mandalika yang wajahnya sangat cantik meski tanpa riasan.
“Senang ada guru di sini, sampai bertemu kembali,” kata dokter sambil berlalu dengan cepat.